Archive for the ‘Opini’ Category

Menjiplak(Plagiarism): Sebuah Pembiasaan

Semalam saya mendengar lagu Aspalela di You Tube, terenyuh saya mendengarnya, karena saya sangat kenal lantunan musik yang dinyanyikan. Lagu “Abang Tukang Bakso” yang menjadi lagu favorit saya semasa kanak-kanak. Lagu yang dinyanyikan oleh Saipul Apek memang sedang hits di Malaysia. Terlepas dari apakah Saipul sudah meminta izin kepada Agil/Mamo, hal itu perlu diklarifikasi. Namun, sedihnya saya jika itu sebuah penjiplakan tanpa izin. Tapi, saat ini bukan Malaysia yang akan saya bahas, sekalipun saya sangat kecewa dengan penjiplakan yang berulang-ulang. Sebuah penjiplakan terkesan menjadi sebuah pembiasaan di beberapa negara Asia. Di Indonesia contohnya, penjiplakan banyak dilakukan. Mudahnya software komputer, CD film dan lagu yang seharga 6000 (di Jakarta) ditemukan di pasaran, bahkan di mal-mal ekslusif. Sayangnya, saya juga tidak sanggup membeli software SPSS seharga $100 yang hanya berlaku satu tahun, itupun student edition :((. Sebuah dilema kembali saya hadapi diantara kebutuhan dan idealisme. Belum lagi, mudahnya fotokopi buku-buku textbook di Indonesia, saya ingat ketika memfotokopi di jurusan harus melaporkan “judul buku dan halaman” yang akan difotokopi, itupun maksimal 10% dari isi buku. Sebuah idealisme kembali tertantang, ketika seorang ibu dari keluarga tak mampu datang ke orang tua saya yang kebetulan juga seorang guru,untuk meminta izin memfotocopy buku pelajaran untuk anaknya yang menjadi acuan ibu saya mengajar, dengan alasan tidak memiliki uang untuk membeli buku. Sedihnya, karena saya tahu untuk membayar uang sekolah (bukan SPP tapi jenis-jenis uang yang lain :((() mereka sangat kesulitan. Ironi memang..

Penjiplakan sepertinya merambah ke semua bidang, termasuk dunia pendidikan. Berkaca pada diri saya pribadi, pada saat kuliah saya sangat mudah menulis sebuah makalah dengan ribuan kata dalam sehari, sayangnya dengan sistem “copy- paste” dari beberapa buku. Tugas makalah tidak menjadi tantangan ataupun refleksi pemahaman saya saat itu. Tapi, saya benar-benar kesulitan ketika saya kuliah di sini, penjiplakan/plagiarism menjadi sebuah pelanggaran serius yang dapat berdampak dikeluarkannya mahasiswa dari universitas, dan itu terjadi. Menulis sebuah artikel ataupun penelitian menjadi proses perjuangan yang sangat sulit saya lakukan, bukan hanya karena bahasa inggris yang juga merupakan masalah, namun karena sulitnya mengubah kebiasaan “copy-paste” dari sebuah resources. Apalagi ketika membaca sebuah sumber, rasanya bahasa tulisan dari sebuah buku atau artikel tersebut, selalu saja menurut saya memiliki bahasa yang sempurna. Alhasil, menulis sebuah paper, bisa membutuhkan waktu yang lama :((. Sebenarnya sederhana, jika mengutip secara utuh atau tidak, maka masukkan referensi yang digunakan. Namun, jika saya merefleksikan pada proses belajar saya dahulu, sepertinya makalah-makalah saya waktu saat itu berisi semua kutipan ..:((.

Saat ini saya belajar,belajar mem’paraphrase” sebuah kalimat kutipan, belajar menuliskan semua referensi dari kutipan yang saya ambil, belajar menulis apa yang “original” dalam pikiran saya, dan yang paling penting belajar “JUJUR”. Beberapa hal yang saya lakukan untuk menghindari plagiarism dalam menulis, 1) membaca dan temukan ide intinya, 2) mencoba menuliskan dalam bahasa saya sendiri, 3) kemudian mengubah struktur kata, seperti pasif menjadi aktif atau sebaliknya, atau mengubah subjek, dsb, 4) tulis opini sendiri terhadap ide tersebut, yang jadi masalah kita seringkali tidak percaya diri dengan ide kita sendiri, namun kita harus mulai belajar kalau kita juga punya opini 5) jgn lupa masukkan referensinya..he2. Kesannya sederhana, namun buat saya pribadi hal ini membutuhkan proses belajar yang panjang, bahkan berkali-kali saya mengikuti pelatihan cara menghindari plagiarism. Memang tulisan-tulisan orang lain terkesan sangat sempurna, apalagi buku-buku atau artikel yang sudah dipublish, tapi dengan menuliskan pendapat kita sendiri itu lebih berharga. Saat ini yang saya rasakan, sebuah kebanggaan, sekalipun tulisan saya kurang bagus, bukan hanya karena bahasa, namun juga karena ide-ide yang kurang atau bisa dibilang tidak briliant, namun itu pendapat saya sendiri. Alhasil, saya percaya diri mengirimkan 2 buah hasil penelitian saya dalam sebuah conference di sini, yang tidak pernah saya pikirkan, saya sanggup melakukannya. Sebuah proses belajar telah terjadi dalam diri saya, merubah sebuah pembiasaan yang sudah menjadi bagian diri saya. Semoga, saya juga tidak lagi melihat makalah-makalah ataupun laporan praktikum mahasiswa saya yang berisi kutipan-kutipan dari buku tanpa mencantumkan referensi, semoga saya tidak lagi membaca isi buku atau artikel berpindah ke tugas-tugas mahasiswa saya dan terkesan sebagai opini mereka pribadi. Semoga, saya menemukan ide-ide original dalam tugas-tugas mereka. Saya tidak membutuhkan jawaban yang benar, tapi jawaban yang ada di pikiran mereka. Sebuah proses yang saya yakin membutuhkan pembelajaran, bukan hanya untuk mereka namun juga untuk saya. Bukankah seorang pendidik yang baik juga seorang pembelajar?..semoga..

Advertisements

Susahnya Berpikir Kritis: Sebuah Refleksi Diri

Tuntutan berpikir kritis menjadi hal utama dalam proses pembelajaran saya di Australia, yang sangat membuat saya tidak nyaman. Di jurusan saya, tidak ada ujian dalam bentuk test yang biasa dilakukan. Tugas-tugas dalam bentuk paper, menuntut mahasiswa untuk memiliki pemahaman terhadap topik yang diberikan sekaligus belajar bepikir kritis. Suasana akademik yang mendukung, dosen-dosen yang sangat low profile dan sangat menolong sudah menjadi opini utama bagi orang2 yang belajar di luar negeri. Namun, kembali bercermin dan berharap semoga Indonesia akan memiliki hal tersebut di masa yang akan datang. Akses ilmu pengetahuan yang mudah, dosen yang mudah ditemui, diajak diskusi, dan dikritisi. Semoga..

Kembali ke berpikir kritis, saya sangat tidak terbiasa berpikir kritis, sistem pendidikan yang saya jalani di Indonesia, sebagian besar tidak membentuk saya untuk menjadi individu yang berpikir kritis. Saya terbiasa dididik untuk duduk diam di kelas, mendengarkan guru bicara, mencatat, mengerjakan soal, kemudian membawa pekerjaan rumah (PR). Sepertinya, sekolah jadi tempat “transfer” ilmu pengetahuan yang ideal untuk saya. Guru selalu benar sangat terekam dalam benak saya, apalagi ketika masa-masa di sekolah dasar. Sekalipun orang tua saya guru, namun apa yang disampaikan guru saya di kelas adalah yang paling benar. Contohnya, jika ada PR matematika, ayah sangat cerdas menemukan cara yang singkat, tepat, dan mudah dimengerti (saya baru menyadarinya sekarang, he2), tapi selalu saja saya menolak cara yang diberikan ayah.Kalau ada kata “pokoknya” (he2) cara dari guru yang paling benar. Ironisnya, kadang dengan hasil yang sama namun cara penyelesaian yang berbeda, guru kadang memberikan “vonis” sebagai jawaban yang salah..he..lucunya. Malunya, kalau bertemu anak-anak Indonesia yang sekolah di sini, yang terbiasa dididik berpikir kritis di sekolah. Anak-anak usia dini yang ketika diberikan kesempatan bertanya, mereka semua akan berlomba mengemukakan pendapatnya. Anak-anak yang setiap diminta melakukan sesuatu, selalu bertanya, “kenapa? untuk apa?” Semua fenomena dalam kehidupan mereka menjadi hal yang menarik, karena mereka terbiasa menimbulkan pertanyaan yang membuat mereka berpikir kritis.

Susahnya berpikir kritis, susahnya merubah framework saya berpikir. Belajar mengkritisi buku-buku, jurnal-jurnal atau sumber referensi yang lain yang menurut saya sudah sempurna, seringkali yang saya lakukan adalah kritikan positif, he2..isi yang menarik, alur yang terstruktur, ataupun analisa yang tepat. Kadang saya membaca berkali-kali untuk mencari sisi kekurangan sebuah tulisan, namun tidak satupun saya temukan. Bahkan sebuah teori constructivism yang menurut saya sangat tepat untuk diterapkan di dalam kelas, sangat perlu dikritisi. Akhirnya, masa-masa awal, saya belajar di sini, terasa begitu berat. Mengkritisi memang sebuah proses belajar, sebuah proses yang membutuhkan pembiasaan. Karena untuk mengkritisi sebuah topik, membutuhkan pengetahuan kita terhadap topik tersebut( banyak membaca jadi kuncinya), yang menjadi masalah adalah akses informasi terhadap jurnal2 atau buku di Indonesia yang belum memadai kadang membuat semua menjadi terbatas. Namun, menyerah bukan menjadi solusi. Membaca bagaimana orang mengkritik, bagaimana kritik disampaikan bisa menjadi proses pembelajaran awal. Senantiasa mengevaluasi diri juga dapat menjadi proses pembelajaran untuk berpikir kritis.

Saya merasakan pentingnya berpikir kritis dalam proses pembelajaran di kelas. Ketika seorang berpikir kritis, dia tidak hanya memahami topik tersebut, namun pada saat bersamaan dia juga mengevaluasi hal tersebut berdasarkan pemahaman yang dimiliki. Sehingga, jika seorang guru berhasil menciptakan suasana belajar yang memotivasi siswa untuk berpikir kritis, tentu sebuah hal yang sangat perlu dihargai. Seringkali sebagai seorang guru, saya mengungkapkan banyak alasan yang membuat hal ini jarang dilakukan, banyaknya materi yang harus diselesaikan, jumlah siswa yang banyak, ataupun waktu yang terbatas. Tapi sekali lagi lelah rasanya menjadikan hal-hal tersebut menjadi alasan. Dalam pembelajaran mata pelajaran sosial, mungkin menciptakan suasana belajar untuk berpikir kritis lebih mudah dilakukan dibandingkan dalam pembelajaran IPA apalagi matematika. Namun, guru IPA dapat menggunakan isu-isu di masyarakat menjadi sarana untuk memfasilitasi siswa berpikir kritis, contohnya mengangkat isu “bayi tabung” atau “GM food” atau isu-isu yang menimbulkan perdebatan dan terkait dengan sains/IPA itu sendiri. Pada akhirnya, siswa belajar mengkritisi dan belajar melihat dunia dari sudut pandang berbeda. Hal ini akan menciptakan belajar bermakna karena terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Pada intinya, masalahnya bukan pada banyaknya teori-teori belajar yang dipahami guru, bukan pada berapa banyak metode mengajar yang dikuasai, bukan berapa lama pengalaman mengajar, tapi pada keinginan guru itu sendiri untuk belajar, untuk menciptakan belajar bermakna, dan untuk memotivasi siswa menjadi manusia pembelajar. Sungguh, saya bangga melihat guru-guru yang punya semangat juang dan punya keinginan belajar. Guru-guru yang tidak menyerah dengan segala keterbatasan, guru-guru yang senantiasa berada di garis depan. Senantiasa berharap, semoga saya bisa belajar senantiasa berpikir kritis dan memotivasi mahasiswa saya untuk berpikir kritis.

Note: Bahasa Inggris saya jauh dari sempurna, tapi bahasa Indonesia saya rasanya lebih jauh lagi..:)))..susahnya.

Indonesia vs Australia

Kalau baca judulnya, pasti dah ketebak isinya. Bahkan mungkin banyak orang yang ke luar negeri baik sekedar jalan-jalan ataupun studi, selalu berpendapat Indonesia lebih buruk..(..sedihnya ya..bener ga ya???). Tertarik dari isi milist temen2 sekelas di APS (Australian Partnership Scholarship), beberapa dari kita tetap berpikir lebih baik tinggal di Indonesia (beda ya??..he2), gitu juga saya, he2..Sekalipun banyak sekali orang Indonesia yang memilih untuk bisa menetap  di sini, bahkan berusaha bagaimana caranya menjadi warga negara Australia, biarpun harus membayar ribuan dollar, mengurus segala dokument, termasuk harus rela diusir jika berbuat pelanggaran (masalah hukum). Hebat kan?..tapi ternyata ada juga yang mau banget jadi warga negara Indonesia, ini mengutip cerita temen saya di APS, Mbak Rini :

Aku punya temen, dia citizent Singapore, PR Australia,
tapi dia kalo ngumpul-ngumpul selalu ama anak Indo
yang ada di Nedlands, dia mualaf, tapi udah agak lama
sih, mungkin 10 tahunan yang lalu. Dia cintaaaaaaaaaaa
banget ama Indonesia, sekarang dia kerja di Indonesia,
cuma jadi guru smp di depok, padahal gajinya nggak
nyampe 1 juta. Belum lama ini dia pulang, karena harus
memperpanjang visa. Wah, ceritanya tentang Indonesia
itu hebohhhhhhhhh banget, dia seneng banget ama LIGA
Indonesia (kebetulan anaknya memang suka bola),
padahal kita aja yang orang Indonesia udah muak,
he…he…Dengan bangganya dia cerita apa-apa yang baik tentang
Indonesia, apa aja…….
Dia kepingin jadi citizent
Indonesia, jadi kita saranin dia untuk menikah dengan
gadis Indonesia.
Denger cerita dia, aku jadi bertanya-tanya ama diriku
sendiri, aku aja yang orang Indonesia nggak sebangga
dia jadi bagian dari Indonesia, so, sekarang aku jatuh
cinta lagi deh sama Indonesia, HIDUP INDONESIA!!!
(kayak mau perang aja deh)he..he…”

Lain lagi kata temen aku, pak Nana:

“Di sini  serba gak terbiasa buat kita, misalnya ban sepedaku tembus paku, gak ada tukang tambal ban, terpaksa deh beli ban baru. Klau perut lapar malam2, gak ada tukang mie tektek atau baso yang lewat rumah, hehe..”

Menarik kan?..Beberapa hal yang sering saya dan temen2 bicarakan, misalnya..kalau di Perth, nunggu bis ada jadwalnya, misalnya 8.48am bis 72 yang ke kampus tiba di sussex st,(bis ini akan sampai ke kampus jam 8.57),  kalau saya sampai di sussex  st 8.49am pasti bisnya sudah lewat, he2..dampaknya harus tunggu bis berikutnya jam 8.59am n sampe ke kampus 9.08am (telat dech, tuk kuliah jam 9)..selalu ingat di Jakarta bisa nunggu bis jam berapa aja, dimana aja, he2.. (tergantung sudut pandang, keadaan..yang kelihatan negatif bisa jadi positif, he2)..

Kalau di Australia, semua toko tutup jam 5 sore itupun cuma sampai Jum’at (toko tertentu buka sampai Sabtu, tapi sedikit sekali), kecuali hari kamis sampai jam 8. Jadi Sabtu-Minggu, di sini malah sepi banget, kalau di Jakarta weekend jadi trend jalan2 ke shopping centre. Di Jakarta bisa belanja tiap hari sampai malam.. Kayaknya buat orang Indo yang shopping mania, ga tahan tuh tinggal di sini, he… sampe sekarang saya masih juga bingung, weekend orang2 aussie kemana ya..ga usah weekend, hari biasa aja susah banget ketemu orang (mungkin di Sidney n Melb ga ya)..he2…

Kalau liat acara TV, wah jadi pengen balik ke Indo lebih variatif n seru2..kalau di sini, bosen n kadang film “jaman dulu” yang ada. Tapi satu favorite aku yang ada di sini tapi di Indo ga ada (Bart Simpson, he2…pas lagi nonton neh)…

Ehm, cuaca, pergantian siang malam, Indonesia surganya. Serba teratur, 12 jam malam(gelap), 12 jam siang (terang).., cuacanya juga “smoth” (asal jangan banjir ya…). Kalau di Aussie, pas Summer, Jam 9 baru gelap (baru maghrib)..n jam 5 (tetap dah subuh, sunsrise jam 6). Pertama2 shock, kok enggak gelap-gelap, baru aja istirahat malam jam 11 (Isya hampir jam 10), dah pagi lagi..he2..Katanya kalau Winter beda lagi..(adaptasi lagi dech..). Suhu luar biasa anehnya, pagi bisa 23  derajat, siang bisa 38 drajat (Apalagi di Melb)..berubah drastis, yang kadang bikin badan ga enak,…

Makanan???, apa karena lidah yang ga biasa or faktor lain..Makanan di sini ga berasa bumbunya. Ga kayak di Indonesia “full bumbu”, yang bikin kangen rasanya..kata orang di sini, masakan Indo panjang banget prosesnya, he2..Tapi untungnya, ada toko orientalis di sini, yang jual bumbu2 n apa2 aja yang khas Indo n Asia..(Indomie tetap jadi favorite, he2…). Dari Kangkung, tempe, sambel terasi, ikan asin,etc, ada di sana..jadi berasa deket Indo (emang deket,he2)..

Wah..setiap dengar cerita orang yang balik dari luar negeri..mereka kebanyakan sangat terpesona, bahkan ada yang sedkit depresi karena enggak nerima kenyataan stelah kembali,  Indonesia jauh dari harapan. Sekalipun saya tetap salut dengan kejujuran n ketertiban yang mereka punya. Tapi bukankah harusnya kita juga bisa jujur n tertib kalau kita mau..Kadang sedih n berpkir, kapan ya Indonesia berubah?????…kita mulai dari kita yuk..

“hujan air di negara sendri (asal jangan banjir, he2) memang lebih baik dari hujan uang di negara orang ya (sakit soalnya kejatuhan uang,he2)..”

so..masih mau jadi warga negara Indonesia?????..(Aku Mau..)

Are you proud to be Indonesian?:The awareness of my nationality

I read through the news on the issue of nationalism, since there are interesting debates on e-mail groups of Indonesian students in Perth about becoming Australia citizen or permanent resident.. The ideas of living overseas or living in Indonesia to give contributions for the country becoming the centre issue related to the nationalism. My eye is attracted to read the article on “Character Building” which mentions the education process:

“As long as education, teachers and school buildings, particularly at the primary and secondary level, are neglected nationwide, character-building at the national level will remain futile. This will entail, as its consequence, the belated materialization of the individual man-making concept, let alone nation building” (Suhaedi, Jakarta Post)

Education becomes powerful process to shape young generations under the national identity. Even though, I haven’t found the evidences yet. Then, I feel uncomfortable when I read the first paragraph of other news on the same topic “The Singapore government has granted citizenship to Indonesian banker Agus Anwar, who fled his country of origin with unsettled debts “(Jakarta Post). The problem is not only “unsettled debts” but also the “citizenship”. I am questioning myself since many friends decided to change Indonesian nationality or live overseas as permanent resident in Australia.. I apprehend as developing country, Indonesia face complex problems on poverty, corruption, and criminal, but should we left Indonesia and stay overseas? If we live in developed country, does it mean we are not nationalist? What do differences on giving contribution by living in or outside the country?

Since I came to Australia, I realize how comfortable of staying in this country. Therefore, I didn’t feel strange when I found many Indonesian try to get citizenship or permanent resident in Australia. Even, my friends always ask me to try to find out the way and follow the process to get it. However, I didn’t feel enthusiasm on it, I just want to be back and give the contribution for the better future of Indonesia. I feel that I am not “fully” nationalist or idealist, but I think my knowledge will be more useful in Indonesia. Moreover, since I realize my role to shape my students as pre-service teachers. I become apprehend that I have opportunities to contribute for the betterment of Indonesia.

In addition, I am bored to hear the negative opinions about Indonesia. I am sad to hear about how expensive the education, how stressful the students (the news on student killed himself because he was shame that the parents couldn’t pay school’s fees), and how other negative things always shaped the national even the international news. I am “fully” conscious on it, but rather than I run away to get the comfortable life in other country, I choose to be back to face the reality of my country. It is not only because I have to be back because of the agreement with the AUSAID, but it is really my willingness. If I told my friends, they will be told me that “you are very idealist”. Even though, I am still worried that my beliefs could be changed. I hope that within 10, 20 or 30 years when I read this narrative, I still have same beliefs and opinions.

It seems that it is not related to my research study, but I found it is prevailing to remind me that the idea of green chemistry as “a bridge” to contribute for the Indonesia future. The idea of sustainability within the education process, in specific, will help my chemistry department to manage the chemical waste problems and sustainability environment surrounding the university. In broad, it will contribute for sustainability in Indonesia, even in the world. Shaping my students’ awareness on their role within the sustainability environment will empower to be the pioneers in the society. Finally, within the limitation and the strength of my country, I will be there to face the reality to shape the young generations. It’s one example of the emails

“In my opinion, I don’t believe it’s only the government’s fault that we are facing this condition. True the government still needs to get their act together and need to have a better, concrete, community based, cost efficient, free from KKN, realistic plan and implementation process for the country. But, if you want to stat blaming a certain party, why not blame the businessmen who when they do business they only think about their own profit and not think about the environment, other people’s needs and the next generation. Indonesia is one of the top 4 countries that have the richest people in Asia.

You can also blame the educated for not educating the people. I have heard about many researchers and scientists who prefer to live abroad because they feel that they are not appreciated in Indonesia. You can also blame the politicians who make unwise policies. I think we have enough rules and regulations in this country. The problem is nobody is implementing it. You can also blame the law enforcement for not enforcing the law. It’s so easy to bribe a police officer. And you know what, you can also blame the society that feels helpless and don’t have the willingness and effort to make a change. If you look at kios-kios, warung and tempat nongkrong, you will find people just sitting around, smoking, and drinking. And you can also blame the previous generation for only thinking about themselves and not help prepare or provide for my generation and the next generation a nice, safe, healthy, environmental friendly, peaceful and rich with natural resource world.

We all know that this century is facing the highest heath, criminal and environmental problems. But instead of blaming I would prefer to appreciate those who have contributed to the development of the community. I hope I can follow in their footsteps. I also hope my generation and the next generation can do better. I still hope the previous generation will help make my generation and the next generation’s job a little bit easier(e-mail from Renata Sajad)

Untuk apa menjadi guru????

Saya melangkah perlahan memasuki kelas di sebuah sekolah STM di Jakarta. Ini adalah hari pertama saya mengajar kimia di sekolah tersebut. Perasaan yang campur aduk, senang, takut, dan khawatir, sebagai guru baru. Saat tiba di ruangan kelas, saya sangat kaget, karena kondisi kelas yang sangat tidak teratur, kertas berserakan dimana-mana. Siswa-siswa tersebut saling melempar bola kertas dan tidak memperdulikan kehadiran saya. Mereka semua laki-laki dengan postur yang sama atau bahkan lebih besar dari saya. Saya bingung, apa yang harus saya lakukan, dengan nada agak keras, saya kembali mengucapkan salam, tapi mereka tetap sibuk dengan aktivitasnya. Saya mengambil penggaris kayu dan mengetuknya ke papan tulis untuk menarik perhatian mereka. Akhirnya mereka melihat ke arah saya. Setelah memperkenalkan diri, mereka terlihat tidak antusias, bahkan tiba-tiba sesuatu dilempar ke arah saya. Saya sangat kaget, sebuah cicak, sekalipun saya tidak takut cicak, tapi hari itu saya menjadi sangat takut. Saya berusaha tenang, sekalipun badan saya agak gemetar. Saya berusaha menguasai diri dan memulai pelajaran, namun siswa-siswa tersebut sangat sulit dikendalikan, ada yang membelakangi saya, asyik mengobrol, bahkan tertawa. Peringatan, suara keras saya tidak lagi berfungsi. Saya mengajar tanpa memperhatikan siswa-siswa tersebut karena saya bingung apa yang harus saya lakukan. Akhirnya bel berbunyi, dengan perasaan marah dan kesal, saya keluar kelas. Ingin rasanya saya berhenti menjadi guru saat itu.

Cerita di atas adalah pengalaman saya pertama kali mengajar di sebuah sekolah STM yang mayoritas siswanya adalah laki-laki. Seorang guru yang baru saja lulus sebuah universitas dan hanya memperoleh pengalaman PPL di sekolah yang mayoritas memiliki siswa dengan perilaku yang baik, pengalaman ini tentu sangat membuat saya “shock” saat itu. Sekalipun saya lulusan sebuah universitas pendidikan di Jakarta dan orang tua saya adalah guru sekolah dasar, namun saya sama sekali tidak berminat menjadi guru. Saat itu yang saya pikirkan adalah memperoleh pekerjaan. Bahkan ketika diterima di universitas tersebut pada tahun 1999, saya hanya berpikir ” paling tidak saya bisa kuliah di universitas negeri”. Ironis memang, tapi itulah saya saat itu. Bahkan saya pernah diskusi dengan mahasiswa yang mengambil jurusan pendidikan, mereka juga tidak ingin menjadi guru. Dengan alasan tidak diterima di universitas pilihan, mereka menjalani hari-hari di bangku kuliah untuk dididik menjadi guru. Sudah berkembang di masyarakat, profesi guru terkesan bukan menjadi pilihan, gaji yang kecil dan tidak menjadikan kehidupan yang “dianggap layak”. Profesi yang dianggap ekslusif adalah profesi dengan gaji yang besar. Orang tua akan bangga jika anaknya menjadi dokter dan arsitek, bukan menjadi guru.

Saya pernah melakukan studi penelitian tahun lalu mengenai motivasi menjadi guru, koresponden saya adalah mahasiswa master and doctoral degree di CUT, Perth, Australia yang berasal dari empat negara: Amerika, Afrika, Australia, and Philipina. Bahkan sekalipun mereka adalah guru dan dosen yang sedang kuliah jurusan pendidikan. Sebagian besar dari mereka memiliki motivasi menjadi guru setelah beberapa tahun mengajar sebagai guru (lihat di research and journals: motivation to be a teacher). Sebuah persepsi umum yang sama, bahwa gaji guru yang kecil dan sangat mudah menjadi guru daripada tidak bekerja. Ironisnya ujung tombak pendidikan ada di tangan guru.

Di samping masalah motivasi generasi muda menjadi guru, banyak pertanyaan dalam benak saya, terkait kualitas guru. Apakah tuntuan kompetensi guru dalam proses sertifikasi guru menjadi sebuah standar bahwa guru itu adalah guru yang berkualitas? Menjadi guru yang menguasai teori pendidikan, subjek yang diajar, serta hubungan sosial. Apakah guru-guru yang lulus proses sertifikasilah yang layak mendidik generasi bangsa?Generasi apa yang akan dibentuk?Motivasi apa yang mendorong guru-guru mengikuti sertifikasi? tuntutan profesikah, rewardkah atau peningkatan kualitas pribadi sebagai seorang guru?Jika saya menghadiri sebuah seminar, permasalahan kualitas guru, selalu dikaitkan dengan gaji yang kecil. Apakah uang adalah akar masalah dari kualitas guru?Apakah peningkatan gaji akan meningkatkan kualitas guru? Apakah universitas pendidikan tidak cukup layak mendidik calon-calon guru?Terlalu banyak pertanyaan yang senantiasa berkembang di pikiran saya.

Saya bosan mendengar gaji kecil selalu jadi alasan. Saya lelah mendengar overloaded kurikulum menjadi sanggahan untuk menciptakan belajar bermakna. Saya frustasi mendengar anak-anak yang terlihat stress dengan mata pelajaran di sekolah. Saya kembali terngaga ketika tingkat kelulusan siswa begitu rendah. Saya kembali tertunduk ketika guru kembali disalahkan. Untuk apa menjadi guru, jika hanya ingin memiliki pekerjaan dan menghasilkan uang? untuk apa menjadi guru jika membuat anak-anak menjadi frustasi? untuk apa menjadi guru jika anak-anak semakin tidak mengerti siapa dirinya dan bagaimana masa depannya? Untuk apa menjadi guru jika hanya menyelesaikan materi dalam waktu tertentu?untuk apa menjadi guru, jika siswa kita bertanya ” untuk apa kita belajar reaksi kimia, ibu?” dan guru juga tidak memiliki jawaban pasti, bergunakah ilmu itu untuk masa depan mereka?. Saya tutup posting saya dengan pertanyaan tanpa jawaban. Sebuah refleksi diri bagi saya sebagai seorang pendidik, seorang guru, seorang dosen yang bertanggung jawab membentuk mahasiswa saya menjadi guru.

(Perth, 11 April 2006, 8.48pm)